Dalam beberapa tahun terakhir, Sony Interactive Entertainment terlihat cukup rajin membawa game eksklusif PlayStation ke PC. Polanya sudah bisa ditebak: rilis dulu di PlayStation 5, lalu beberapa bulan kemudian menyusul ke PC. Strategi ini mulai terlihat jelas sejak Horizon Zero Dawn hadir di PC pada 2020, kemudian diikuti deretan judul besar seperti God of War, Marvel’s Spider-Man Remastered, dan The Last of Us Part I.
Langkah ini sempat dipuji karena membuka akses bagi lebih banyak pemain. Tapi di balik itu, nggak semua proses port berjalan lancar. Ada beberapa rilisan yang disebut hadir dengan performa kurang optimal, mulai dari frame rate yang tidak stabil sampai bug teknis yang bikin pengalaman bermain jadi kurang nyaman.
Mulai Ada Sinyal Rem?
Belakangan, muncul obrolan bahwa Sony mungkin tidak akan seagresif dulu dalam merilis game eksklusif ke PC. Dalam podcast Triple Click, jurnalis Bloomberg, Jason Schreier, menyinggung kemungkinan adanya perubahan arah. Ia merasa perusahaan tersebut bisa saja mulai mengurangi kebiasaan membawa game first-party, khususnya yang berbasis single-player, ke platform PC.
Ia bahkan memberi contoh bahwa Ghost of Yotei berpotensi tidak mengikuti jejak pendahulunya yang sempat hadir di PC. Selain itu, Marvel’s Wolverine yang akan dirilis dalam waktu dekat sejauh ini hanya diumumkan untuk PS5.
Menurut analisanya, pemain kemungkinan besar tetap membutuhkan PS5 jika ingin menikmati game tersebut dalam waktu dekat. Walau belum ada pernyataan resmi dari Sony, pendapat tersebut langsung memicu diskusi hangat di kalangan gamer.
Game Single-Player Paling Terdampak?
Jika perubahan strategi ini benar terjadi, game single-player disebut sebagai pihak yang paling terdampak. Model bisnis membawa game naratif ke PC dinilai tidak memberikan hasil sebesar yang diharapkan. Dari sisi penjualan maupun efek jangka panjang, hasilnya dianggap tidak terlalu spektakuler.
Karena itu, ada anggapan bahwa Sony mungkin akan lebih selektif. Artinya, bukan semua game akan berhenti masuk PC, tetapi judul-judul tertentu saja yang kemungkinan “ditahan” eksklusif lebih lama di konsol.
Live-Service Justru Tetap Jalan
Menariknya, situasinya berbeda untuk game dengan model live-service. Game multiplayer dinilai membutuhkan jumlah pemain besar agar ekosistemnya tetap hidup. Merilisnya di PS5 dan PC secara bersamaan bisa menjadi langkah logis untuk memperluas pasar.
Beberapa proyek multiplayer Sony bahkan sudah dikonfirmasi akan hadir di dua platform tersebut pada hari yang sama. Strategi ini dianggap lebih cocok untuk pertumbuhan jangka panjang.
Sampai saat ini, semuanya masih sebatas rumor dan analisis. Hingga kini Sony belum mengumumkan secara resmi. Namun jika benar ada perubahan strategi, peta distribusi game eksklusif PlayStation dalam beberapa tahun ke depan bisa terlihat sangat berbeda dari sebelumnya.